Juli 22, 2009

Kotoran burung najis kah?

Posted in Dinul Islam tagged , , pada 6:36 am oleh fuad

Diambil dari http://blog.vbaitullah.or.id/2005/03/03/556-mengenal-najis-57-abu-ubaidah-al-atsari/

1. Kaidah: Asal segala sesuatu adalah suci, tidak boleh dikatakan najis kecuali berdasarkan dalil, sedangkan tidak ada satu dalilpun yang menajiskannya baik nash Al-Qur’an, hadits, ijma’ maupun qiyas. Ini menunjukkan semua hal (kotoran burung, dan binatang lain) jika tidak ada dalil yang menajiskan maka tidak najis.

2. Nabi memberikan izin kepada orang-orang dari negeri ‘Urainah untuk meminum dari air kencing unta dan susunya. Ini menunjukkan air kencing unta tidak najis. Karena Rasululloh sallalallahuwalihiwasallam membolehkan untuk meminumnya

(Shahih Bukhari no. 233 dan Shahih Muslim no. 1671)

3. Shalatlah kalian di kandang kambing, tetapi janganlah kalian shalat di kandang unta, karena ia diciptakan dari syetan.

HR. Ibn Majah (1/258); Thohawi (1/224), Ahmad (451, 491, 509), Thoyalisi (913) dan dishahihkan Al-Albani dalam Ats-Tsamarul Mustathob (1/382-389)

Dari hadis ini menunjukkan bahwa Nabi sallalahualaihiwasallam membolehkan untuk sholat di kandang kambing, padahal sudah umum diketahui bahwa kandang kambing penuh dengan kotoran hewan yang menempati.  Seandainya najis tentunya akan dilarang.

4. Dari Abdullah bin Mas’ud, bahwasanya Rasulullah ketika tengah sujud di Ka’bah. Lantas orang-orang Quraisy mengutus Uqbah bin Abi Mu’ith kepada suatu kaum yang telah menyembelih hewan. Kemudian dia (Uqbah) datang dengan membawa kotoran dan jerohannya lalu meletakkannya di atas punggung Rasulullah ketika sedang sujud. Tetapi Rasulullah tidak
berpaling hingga selesai shlalatnya
(HR. Bukhari – Muslim)

Seandainya kotoran najis niscaya beliau sallalahualaihiwasallam akan menghentikan sholat dan membersihkan kotoran tersebut terlebih dahulu

Kesimpulannya, seandainya kencing dan kotoran hewan termasuk perkara najis, tentu akan dijelaskan dalam agama yang mulia ini karena sangat erat dengan kehidupan manusia. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah telah memaparkan dalil-dalil masalah ini secara panjang lebar dalam Majmu’ Fatawa (21/534-587).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: