Maret 6, 2008

Standar Islam itu yang bagaimana sih?

Posted in Kehidupanku, serba serbi pada 3:46 pm oleh fuad

Mau koding html lihat saja STANDAR W3C dijamin halaman akan ditampilkan dengan baik di seluruh dunia, mau bikin kompiler C lihat saja STANDAR spesifikasi di ANSI C, mau bikin Java Runtime Environment lihat saja STANDAR JCP (JSRXXX) niscaya seluruh program-program Java di dunia akan bisa bekerja. Semua orang paham tentang penting nya standar, karena ini merupakan tolak ukur benar salahnya sesuatu yang dicakupnya. Ketika saya membuat kalimat “Abdullah seorang penembak” orang akan bisa dengan mudah mengatakan saya salah, kenapa? karena KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) mengatakan yang benar adalah “Petembak”. Ketika saya membuat tag html (%3Chtml%3E%3Cb%3Ehalo%3C/%3E%3Chtml/%3E) program komputer bisa menghakimi bahwa saya salah. karena yang benar adalah (%3Chtml%3E%3Cb%3Ehalo%3Chtml/%3E)

Bagaimana dengan Islam, apakah ada standarnya atau tidak?

Di SMA, saya berkenalan dengan Hizbut Tahir, di sinilah saya pertama kali mendengar kata halaqah dan kajian. Selepas SMA dan kuliah di Jogja, saya tinggal di lingkungan Muhammadiyah, di sinilah saya mengenal kentalnya perbedaan antara Muhammadiyah dan NU dalam berbagai hal. Di UGM sebagaimana kampus di Indonesia pada umumnya merupakan basis dakwah Tarbiyah, Di Kos kedua BlimbingSari saya dikenalkan dengan Salafi.

Hizbut Tahrir, Muhammadiyah, NU, Salafi, Tarbiyah semuanya mengaku Islam. Ini masih sedikit dibanding sejuta gerakan yang lain di sana. Jamaah Tabligh, LDII, Syiah, Ahmadiyah, Wahidiyah, NII, Islam Jamaah, dll lah. Mungkin nanti bisa disusun kamus.

Pertanyaanya apakah mereka semua benar, sebagian salah sebagian benar, atau semuanya salah. Bagaimana menjawabnya? Saya sempat bingung untuk masalah ini. Apalagi perbedaannya tidak sedikit mulai dari permasalahan Tarawih, Qunut, Berdoa, Fiqih, Cara Dakwah, bahkan yang paling fatal masalah Aqidah. Bagaimana cara menentukan saya mengambil tarawih 20 rakaat atau 8 rakaat, saya doa langsung kepada ALLAH SWT atau melaui perantara, dakwah itu dengan cara bom, masuk ke Parlemen, dengan perang pemikiran, atau dengan menuntut ilmu agama lebih dahulu.

Alhamdulillah saya akhirnya menemukan jawaban.
فقلنا : يا رسول الله ! كأنها موعظة مودع فأوصنا ) قال : (( أوصيكم بتقوي الله ، والسمع والطاعة وإن تأمر عليكم عبد ، فإنه من يعش منكم فسيري اختلافا كثيرا ، فعليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين عضوا عليها بالنواجذ ، وإباكم ومحدثات الأمور ، فإن كل بدعة ضلالة )) . رواه أبو داود [ رقم : 4607 ] والترمذي [ رقم : 2676 ] وقال : حديث حسن صحيح .

Dari ’Abi Najih al-’Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ’anhu, beliau berkata : Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa Salam memberikan kita sebuah nasehat mendalam yang menyebabkan hati bergetar dan air mata bercucuran, lantas kami berkata : ”Wahai Rasulullah! Seakan-akan nasehat anda ini seperti nasehat perpisahan, berikanlah wasiat kepada kami.” Rasulullah bersabda : ”Aku berwasiat kepada kalian agar kalian senantiasa bertakwa kepada Alloh, mendengar dan taat kepada penguasa kalian walaupun kalian dipimpin oleh seorang budak, karena sesungguhnya siapa saja diantara kalian yang masih hidup sepeninggalku nanti akan melihat perselisihan yang banyak, maka berpeganglah kalian dengan sunnahku dan sunnah Khulafa`ur Rasyidin al-Mahdiyin (para khalifah yang lurus dan terbimbing), gigitlah kuat dengan gigi geraham kalian dan jauhilah oleh kalian perkara-perkara baru di dalam agama katena setiap bid’ah itu sesat.” Diriwayatkan oleh Abu Dawud [no. 4607], Turmudzi [no. 2676] dan beliau berkata : ”hadits hasan shahih.”

Hadits tersebut diriwayatkan oleh : Abu Dawud (4607), Turmudzi (2676), Ibnu Majah (43-44), ad-Darimi (I/44-45), Ahmad (IV/126), al-Hakim di dalam Mustadrak (I/95-96) dan al-Madkhol ila ash-Shahih (I/I), al-Baihaqi di dalam as-Sunan al-Kubra (10/114) dan al-I’tiqod (hal. 229-230) serta Manaqib asy-Syafi’i (I/10-11), Ibnu Hibban (5), Ibnu Abi ’Ashim (27,32,54,55), al-Baghowi di dalam Syarhus Sunnah (102), al-Ajurri di dalam asy-Syari’ah (70-71), ath-Thohawi dalam Musykilul Atsar (1187), ath-Thobroni di dalam al-Kabir (18/818) dan Musnad asy-Syamiyin (437-438), Ibnu ’Abdil Barr di dalam Jami’ Bayanil ’Ilmi wa Fadhlihi (II/222-223), Ibnu Jarir ath-Thobari dalam Tafsir-nya (VI/212), al-Maruzi dalam as-Sunnah (26-27), al-Harawi dalam Dzammul Kalam (II/170), al-Mizzi dalam Tahdzibul Kamal (I/q.236/th), al-Qodhi ’Iyadh dalam asy-Syifaa’ (II/10-11), ad-Dani dalam as-Sunan (II/374) dan ar-Risalah al-Wafiyah (148), al-Fasawi dalam al-Ma;rifah Ta’liqon (II/1344), Ibnul Jauzi dalam al-Hada’iq (I/544) dan Talbis Iblis (22), Abu Ishaq al-Harbi dalam Gharibul Hadits (III/1174), Ibnu Baththoh dalam al-Ibanah (I/306), Ibnu Basyron dalam al-’Amali (45), Abu Nu’aim dalam al-Hilyah (X/114-115), Ibnu Jam’ah dalam al-Masyikhoh (II/557); dari jalan Al-Walid bin Muslim, ia berkata : menceritakan kepada kami Tsaur bin Yazid, ia berkata : menceritakan kepada kami Khalid bin Mi’dan, ia berkata : Menceritakan padaku ’Abdurrahman bin ’Amru as-Sulami dan Hujr bin al-Kala’i darinya (’Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ’anhu).

http://abusalma.wordpress.com/2007/04/02/hadits-khulafaur-rasyidin-antara-ahlus-sunnah-dan-syiah/

Hal yang disabdakan nabi pada hadis di atas betul-betul terbukti bahwa umat islam akan saling berselisih. Alhamdulillah Rasulullah SAW memberikan solusi pada kita yaitu dengan mengikuti sunnah-sunnah beliau baik dalam hal Aqidah, Ibadah, Muamalah, dan Dakwah dan berpegang teguh dalam hal ini sampai-sampai kita disuruh menggigitnya dengan Gigi Geraham. Akhirnya semua bisa terjawab Shalat Tarawih 8 atau 20 rakaat? cari saja yang sunnah yang mana, Qunut subuh dilakukan terus menerus atau tidak? cari yang sesuai sunnah, Berdoa bolehkah melalui perantara atau tidak? Cari yang dilakukan rasul dan sahabat yang mana?, Maulid ada yang mengharamkan ada yang membolehkan?, periksa saja yang pernah dilakukan Nabi.

Inilah standar islam, standar dari Rasulullah SAW. standar untuk menentukan suatu perbuatan baik atau tidak, pahala atau dosa, dibolehkan atau tidak.

12 Komentar

  1. kaconya, fu, sama seperti kamu yang bilang “inilah standar islam”, mereka yang “agak” berbeda dengan kamu diluar sana juga bilang, “inilah standar islam”, “inilah yang tidak bertentangan dengan nabi”.

    sama aja, kan? :mrgreen:

  2. fuad said,

    Dasar dalam beragama kan AlQuran dan Sunnah Rasulullah S.A.W ketika saya mengatakan inilah standar yang benar, saya harus ilmiah memiliki dalil dan hadits di atas itulah dalil saya. Jika ada orang lain yang memiliki standar lain, maka tolong perlihatkan dalilnya.

  3. bsw said,

    Sepertinya sesederhana yg disebutkan di atas.
    Sayang sekali kenyataanya tidak spt itu. Mengapa? Untuk ilmu yg baru belakangan berkembang saja ada beberapa standar yg dipakai. Contohnya ilmu beton, baja, perkerasan jalan dsbnya (ini bidang yg saya sedikit banyak tahu). Memang ada kesepakatan pada kebanyakan standar, tapi umumnya setiap negara (apalagi negara maju punya standar sendiri-sendiri). Tidak berbeda banyak sih, tapi tetap menunjukkan keberagaman.
    Apalagi mengenai Alqur’an dan hadist yg sudah belasan abad yg lalu. Penafsiran satu ayat bisa berbeda antara ulama yg satu dengan ulama yg lain.
    Ulama yg satu dianggap oleh segolongan umat lebih dipercaya dari segolongan umat yg lain dan begitu juga sebaliknya.
    Bukannya mau mempersulit sesuatu yg mudah, tapi kalo Islam itu sesederhana yg anda gambarkan, mungkin malaikat nggak akan bertanya pada Allah ketika Adam mau diciptakan? :-)

  4. fuad said,

    @bsw

    Berarti sekarang masalah nya ke standar pemahaman ALQuran dan Hadiis, soalnya walaupun merujuk ke AlQuran dan Sunnah yang sama (kecuali beberapa kelompok seperti syiah). tapi tetap saja pemahamannya beda.

    Yang pasti ALLAH SWT menginginkan kita bersatu dengan standar yang ALLAH SWT tentukan.

    Dan berpegang teguhlah kalian semua dengan tali (agama) Allah, dan janganlah kalian bercerai berai.” (Ali Imran : 103)

    Al Imam Al Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata: ”Allah telah memerintahkan kepada mereka (umat Islam, red) untuk bersatu dan melarang mereka dari perpecahan. Dalam banyak hadits juga terdapat larangan dari perpecahan dan perintah untuk bersatu dan berkumpul.” (Tafsir Ibnu Katsir 1/367).

    “Dan bahwasanya (Yang Kami perintahkan ini) adalah jalanku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya. Yang demikian itu Allah perintahkan kepada kalian agar kalian bertaqwa.” (Al An’am: 153).

    Itulah mengapa Islam perlu standar pemahaman yang benar, standar pemahaman dari Para sahabat, seperti apa yang Rasul sebutkan pada hadis di atas “maka berpeganglah kalian dengan sunnahku dan sunnah Khulafa`ur Rasyidin al-Mahdiyin (para khalifah yang lurus dan terbimbing)”.

    Untuk dalil-dalil yang lain silahkan baca
    http://blog.vbaitullah.or.id/2005/11/08/647-kaidah-yang-hampir-ditinggalkan-dalam-beragama-14/

  5. itu dia, fu. penafsiran thd yang Allah inginkan itu seperti apa, pada kenyataannya masih banyak perbedaan di lapangan, kan?
    ga perlu jauh2, fu. aku sama kamu aja boleh jadi punya standar yang berbeda dalam menafsirkan sebuah ayat, misalnya ;)

  6. DSP said,

    kalo mau tau penafsiran yang Alloh inginkan ya kudu melalui kekasihnya, yaitu Rasululloh shalallahu ‘alaihi wassalam, trus untuk mengetahui yang Rasululloh inginkan ya melalui para sahabat-sahabatnya. untuk mengetahui suatu standar itu sesuai yang Alloh inginkan ya tinggal ditimbang dengan pemahaman para sahabat, sudah sesuai atau tidak

    kalau masalah perbedaan, insya alloh para sahabat tidak ada perbedaan dalam masalah aqidah yang pokok, sedang dalam masalah fiqhiyah, asal orang yang melakukan perbuatan tersebut bisa memberikan dasar yg shohih insya alloh boleh2 saja.

    :nooffense:
    CMIIW

  7. fuad said,

    ALLOH Subhanawataalla menurunkan ALQURAN beserta penjelasannya yaitu melalui lisan Rasulullah sallallahualaihiwasallam. Oleh karna itu dalam memahami ayat2 AlQuran sudah selayaknya ditafsirkan dengan Hadis2 yang hasan dan shahih, dengan pemahaman para sahabat sebagai murid langsung Rasululullah sallallahualaihiwasallam.

    Dalam hadis yang saya sebutkan Rasulullah sallallahualaihiwasallam telah memprediksi akan terjadi perpecahan di kalangan umat dalam hal pemahaman tentang dinul islam/AlQuran, karena itu beliau berpesan untuk berpegang teguh pada sunnah sunnah nya dan sunnah sunnah sahabat. Artinya dalam memahami agama ini kita harus melihat bagaimana Rasululullah salllallahualaihiwasallam dan sahabat memahami nya sebagaimana yang tererekam dalam hadis yang hasan dan shahih.

    Sungguh sangat aneh ada orang yang mencoba menafsirkan ALQURAN dan bicara tentang dinul islam padahal tidak hafal hadis satupun, inilah pangkal kejatuhan umat, bodoh mengenai agamanya. Sekarang ini semua merasa berhak menafsirkan ALQURAN/berbicara tentang islam, dari pelawak, artis, bahkan politikus. padahal tidak memiliki ilmu, dan orang merasa wajar. Coba pikir apakah ketika kita sakit, kita mencoba menafsirkan sendiri penyakit kita apa? kita tentunya akan pergi ke dokter yang lebih paham. Selayaknya demikian juga ketika kita tidak mengerti satu masalah dalam agama ini, kalau memang tidak hafal quran, tidak hafal hadis, dan tidak paham bahasa Arab lebih baik tanya pada Ahlinya para ulama, sehingga kita tidak salah paham.

    Kalau pernah baca Tafsir Ibnu Katsir, siapa yang tidak kenal Ibnu Katsir rahimallah, hafidz quran, ahli hadis, jago bahasa Arab. Ketika beliau menafsirkan Quran berapa banyak kata2 beliau sendiri dibandingkan dengan Ayat2 AlQuran, Hadis, dan perkataan sahabat, tabiin, dan tabii tabbiin yang beliau nukil. Ini harusnya menjadi pelajaran bahkan ulama sekalibel beliau sangat hati-hati dalam menafsirkan ALQURAN dengan mendahulukan ALQURAN, Hadis, dan perkataan ULAMA sebelum beliau.

    Tulisan tentang pentingnya ilmu hadis
    http://yulian.web.ugm.ac.id/blog/?p=76

  8. aku setuju sekali sama yang kamu bilang, fu. setuju sekali!
    cuma…yang kamu bilang itu adalah kondisi ideal yang sayangnya bukan fakta di lapangan.

    dari beberapa kali surfing, aku banyak nemu blog2 bertema salaf, yang beberapa isinya, sayang sekali, ada yang mencacat yusuf qaradhawi atau juga pakar tafsir indonesia, quraish shihab; dikatakan sesat, tidak berpedoman salaf, menyalahi ajaran para penerus nabi, dan sebagainya.

    setauku, yusuf qaradhawi sendiri diakui sebagai salah seorang ulama salaf, yang notabene adalah pewaris nabi seperti pengertian salafy sendiri, kan?

    nah, sesama ulama salaf saja punya standar sendiri-sendiri dengan mengatakan standarnya yang paling baku dan menyalahkan yang tidak sepaham dengan dia, lalu bagaimana dengan level yang di bawahnya?

    mana yang sebenernya paling baku? mana yang sebenernya paling valid? mana yang sebenernya pantas dijadikan standar? pada faktanya, umat pada level grassroot berpegangan pada kata2 ulama, kan? nah, kalo ulamanya sendiri aja berantem rebutan standardisasi (ini fakta di lapangan, lho, fu), bagemana coba nasibnya umat di level bawah?

    pertanyaanku mungkin bisa lebih disederhanakan: siapa yang bisa disebut secara mutlak (mutlak menurut Allah, lho) sebagai ulama yang benar-benar pewaris nabi yang ajarannya wajib kita ikuti? bisa sebutkan 1 nama aja, fu?

    sering jalan2 ke toko buku, kan, fu? sering liat buku yang judulnya “misalnya anu”, karangan ulama (yang ngakunya) salaf, terus beberapa waktu kemudian muncul buku yang judulnya “bantahan terhadap buku ‘misalnya anu'” yang ternyata juga dikarang oleh ulama (yang lagi-lagi ngakunya) salaf, kan? dari contoh ini aja, harusnya sudah bisa dibayangkan bagemana kebingungan umat dalam menentukan yang manakah yang sebenernya ulama salafy sejati ;)

  9. fuad said,

    “mana yang sebenernya paling baku? mana yang sebenernya paling valid? mana yang sebenernya pantas dijadikan standar? ”

    Bukannya sudah jelas kan ALQuran, Sunnah, dan Pemahaman sahabat, bukan Ulama, jangan taklid pada Ulama. Sekarang banyak yang ngaku ulama tapi tidak tahu apa2.

    “pada faktanya, umat pada level grassroot berpegangan pada kata2 ulama, kan? ”

    Ya, Ulama yang mereka taklid padanya tidak pernah memperhatikan dalil pendapat ulama. Apalagi pengalaman ku selama ini kebanyakan “yang diberitakan ulama/cendekiawan oleh media” tidak pernah mendasari pendapat nya dengan dalil, cuma asal ngomong aja.

    “nah, kalo ulamanya sendiri aja berantem rebutan standardisasi (ini fakta di lapangan, lho, fu), bagemana coba nasibnya umat di level bawah?”

    Joe standar islam itu sudah ditetapkan sejak Rasulullah sallallahualaihiwasallam di utus. jadi tidak perlu lagi menetapkan standar. Kalau ada Ulama yang menyalahi standar islam yaitu AlQuran, Sunnah, dan Pemahaman sahabat. Perlu dipertanyakan belajar dari mana?, jangan2 cuma bisa baca “terjemah Al Quran” lalu sok menafsirkan.

    “pertanyaanku mungkin bisa lebih disederhanakan: siapa yang bisa disebut secara mutlak (mutlak menurut Allah, lho) sebagai ulama yang benar-benar pewaris nabi yang ajarannya wajib kita ikuti? bisa sebutkan 1 nama aja, fu?”

    Allah subhanawataala yang lebih tau mana Ulama yang lebih mendekati kebenaran.

    Kalau seperti itu namanya taklid, tidak boleh, Yang harus diikuti adalah dalilnya bukan ulama nya.

    Misalnya begini seseorang mengaku bisa php, trus disuruh nulis hello world pake php, orang itu nulisnya:
    class test{
    public static void main(String [] args){
    System.out.println(“hello world”);
    }
    }

    dia jelas2 bukan bisa php tapi java.

    Jadi yang penting adalah substansinya. Sungguh banyak orang yang mengaku mengikuti salaf, tetapi ternyata bukan (ngaku2, banyak kan joe yang kayak gini).
    Ulama adalah yang berpegang teguh kepada ALQuran dan Sunnah dengan pemahaman sahabat. Ketika ia menulis pendapat tapi tidak mendasari pendapat nya dengan ALQuran, Sunnah sesuai pemahaman sahabat. Maka Jangan diterima.

    Misal ada orang berpendapat bahwa Java itu lebih lambat dibanding Php, Hal seperti ini jangan ditelan mentah2 lihat dulu “dasar nya apa” dia mengambil kesimpulan seperti itu. Jika misal dia melakukan riset terlebih dahulu atau mereferensi dari Jurnal Ilmiah yang valid. Maka kita ikuti ucapannya dan setuju bahwa Java itu lebih lambat dari Php, karena ada dasarnya.

    Begitu juga dalam ilmu agama, ketika ada pendapat poligami itu sunnah, lihat dulu dalilnya (kalau dalam skripsi dasar teori nya) apa?

    Misal pada http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=731&bagian=0

    DI artikel itu dalil nya banyak tentang sunnah nya poligami, Maka akan saya ikuti.

    Trus ada buku lain yang membantah bahwa poligami haram itu cuma untuk kalangan Arab dulu saja. Lihat dulu ada dalil nya g?

    Oh ya, tidak semua hal harus sama, standar tidak harus sama kan. Yang penting masing2 ada dalil yang jelas. Misal untuk perkara Fiqh seperti “ketika turun sujud kaki atau tangan yang duluan” nah ini masing2 ulama punya dalil yang shahih yang mendasari pendapat masing2.” Seperti yang dikatakan DSP di atas.

    Ulama mungkin saja salah, karena itu jangan ikuti ulama secara membabi buta. Yang dilihat adalah dalilnya. Hadis yang saya sebutkan di ataskan kita di suruh mengigit(berpegang pada) “sunnah rasulullah dan sunnah sahabat” bukan pada Ulama.

    Insyaalloh dengan memegang dalil kita akan tahu siapa yang berada di jalan ALLOH subhanawataala dan siapa yang menyimpang. Siapa yang benar dan siapa yang salah.

  10. fuad said,

    Tambahan, jadi kesimpulannya dalam memahami agama ini Ikutilah para ulama, Tapi jangan asal ulama tapi ulama yang mengikuti standar yaitu ALQuran, Sunnah, dan pemahaman para sahabat. Ketika mencari ulama yang seperti ini jangan liat label nya tapi lihat lah apa dan bagaimana cara ia menyampaikan, apakah dengan dalil atau tidak.

  11. boleh lanjut lagi nggak, fu?
    aseek, neeh… :D

    aku sepakat dengan yang kamu bilang kalo standar itu sudah ditetapkan sejak jaman Rasul. masalahnya, masih banyak ulama yang saling mengklaim bahwa cuma golongan merekalah yang mengikuti Alquran, Sunnah, dan pemahaman sahabat, sambil mencela golongan lainnya yang nggak sepaham dengan mereka.

    padahal masing2 sama pake dalil. tapi antara mereka yang saling mencela itu juga saling melempar tuduhan, “penafsiran dalilmu nggak valid, yang valid ya yang kayak aku bilang.”

    masing2 (ngakunya) sama2 bersumber pada sumber yang sama, yaitu Alquran, Sunnah, dan pemahaman sahabat. Nyatanya, masih ada aja yang saling menjelek2kan.

    jujur, fu, aku lagi curhat, neeh. aku kalo lagi ngeliat atau dengerin kajian yang pematerinya mencela sesama muslim, aku jadi suka eneg, pengen muntah. bukan cuma itu, rasanya mulut si pemateri pengen kutabok. seakan2 dia lebih tau tentang derajat keimanan manusia lain ketimbang Allah, seakan2 dia sudah memegang tiket surga sedangkan korban caci makinya itu sudah pasti ahli neraka. pengen marah aja kalo ngeliat orang yang nggaya2 mencoba “mengkudeta” posisi Tuhan saya.

    jadi kesimpulanku, kesimpulanmu bikin aku bingung, fu :mrgreen:
    kamu nyaranin aku belajar dari ulama yang mengikuti standar Alquran, Sunnah, dan pemahaman sahabat. Tapi, di lapangan, semuanya mengaku2 mengikuti standar tersebut sambil saling mencela satu sama lain. inilah yang bikin umat bingung, ulama mana yang sebenernya bener2 mengikuti standar yang baku? bagaimana caranya umat bisa tau, lha wong semuanya pada mengklaim hal yang sama?

    ini kayak misalnya ada dialog antara A dan B. A nanya, “kita harus nebeng mobilnya sapa buat ke magelang?”

    “oh, kita nebeng mobil pajero yang lagi parkir di depan kampus itu aja.”

    “tapi, siapa yang punya mobil pajero itu?”

    “mobil pajero itu pasti punyanya yang punya pajero itu, dab. masak gitu aja ga tau?”

    “aku juga tau itu, geblek! masalahnya, coba kamu liat 2 orang di samping mobil itu. mereka lagi bertengkar. semuanya mengklaim bahwa merekalah pemilik sejati pajero itu. sekarang gimana caranya kita bisa tau siapa pemilik sebenernya?”

    “ya kayak yang aku bilang, pemilik sebenernya ya pasti yang bener2 punya pajero itu.”

    “itu dia. gimana cara taunya?”

    “ya liat aja, siapa yang omongannya mengindikasikan bahwa dialah yang memiliki pajero itu.”

    “semprul! 2 orang itu masing2 sama2 ngaku kalo merekalah pemilik sebenernya dari pajero itu. sekarang, gimana caranya membuktikannya? apa parameter yang bisa menunjukkan hal itu?”

    “…”

    “gini aja, biar pajeronya sendiri aja yang nunjukin siapa pemilik dirinya.”

    “pajeronya kan nggak mungkin ngomong, dul! memangnya dia tau2 bakal ngomong ke kita terus nunjukin siapa pemilik dirinya yang sebenernya? yang bener aja, sobat.”

    “lha, terus gimana, dong? siapa pemilik pajero itu sebenernya?”

    “ya kayak yang aku bilang, yang punya pajero itu ya pasti pemilik sebenernya dari pajero itu.”

    “caranya tau?”

    “perhatikan cara dia ngomong dan menyampaikan.”

    “semuanya, 2 orang itu, juga ngomong, menyampaikan, dan ngaku2 sebagai pemiliknya!”

    …dan perdebatan pun ndak selesai2…

    sorry, fu… jadi curhat di blogmu :P ini gara2 semuanya pada ngaku2 sebagai pewaris Nabi, sih…kekekekeke!

  12. aswad said,

    Standar islam yang benar adalah Qur’an dan Hadits dengan pemahaman para sahabat. Itu saja.
    Nah, saya beri contoh. Jika ada suatu permasalahan yang diperselisihkan maka pertama lihat Al Qur’an dan hadits, jika dapat solusinya maka selesai. Jika masih diperselisihkan maka lihat bagaimana pendapat para sahabat tentang masalah yang diperselisihkan ini. Caranya yaitu dengan mengecek kitab2 hadits dan atsar yang memuat perkataan2 para sahabat. Dicek terlebih dahulu keshahihan perkataan sahabat tersebut. Jika para sahabat bersepakat terhadap suatu pendapat maka ini solusinya. Jika diantara para sahabat juga berbeda pendapat maka masalah ini baru kita namakan ikhtilaf. Masing2 boleh berpegang pada pendapatnya masing2 dan tidak boleh saling menyalahkan.
    Jika dari para sahabat tidak ditemukan perkataan2 tentang masalah tersebut maka merujuk kepada ulama setelah sahabat yg dinamakan tabi’in atau setelah tabi’in dst. dengan syarat para ulama tersebut dikenal senantiasa mengamalkan Qur’an dan hadits shahih serta mengamalkan pemahaman para sahabat. Jika ummat Islam mengamalkan metode ini, maka semua akan bersatu diatas Al Haq.
    Silakan cek sendiri, perselisihan yg banyak terjadi diantara ummat muslim pada suatu permasalahan karena adanya banyak pendapat, pasti ada diantara pendapat itu yang berasal bukan dari Qur’an bukan dari Hadits dan bukan dari para sahabat. Tapi mereka mengaku-ngaku. Makanya harus dicek dahulu. NAh, supaya bisa ngecek ini kita harus belajar banyak ilmu hadits, bahasa arab, ilmu tafsir, kaidah ushul, kaidah fiqih, dan banyak cabang ilmu agama yang lain.
    Intinya, kalau ingin mengtehui standar Islam yang benar, jangan cuma berdebat di sana-sini, melainkan harus BELAJAR!


Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: