Mei 25, 2007

UGOS, bagaimanakah sebaiknya?

Posted in komputer pada 6:17 am oleh fuad

Menjelang akhir masa jabatan ku sebagai mahasiswa, proyek ugos yang sebenarnya telah berjalan dari setahun yang lalu (kalau di lihat dari ugos.ugm.ac.id) sekarang sedang panas dan ingin lebih digiatkan kembali. Asal muasal nya karena turunnya surat rektorat yang mendukung pemigrasian UGM ke perangkat lunak bebas dan open source (PLBOS).

Berita yang layak menjadi headline (menurutku) tetapi tampaknya kalah rating dari kontroversi pemilihan rektor. Padahal kalau proyek ini berhasil berapa banyak uang yang bisa dihemat dalam setahun. Selain itu pihak UGOS kali ini juga melibatkan pihak komunitas Linux. Seperti gula diberikan pada semut, jelas saja teman teman Jogxer (sebutan untuk pengguna Linux di Jogja) sangat antusias mendukung proyek ini.

Tapi jalan UGOS masih panjang, persetujuan Rektor hanya langsung berlaku pada institusi yang ada di bawah nya. Sedang untuk fakultas, pusat penelitian, dan unit pelayanan harus menunggu persetujuan kepala institusi masing masing.

Saya memiliki sedikit saran strategi tentang bagaimanakah sebaiknya migrasi dilakukan, mohon maaf jika ada hal-hal yang menurut pembaca kontroversial.

Pertama, dakwah open source harus digiatkan terutama pada petinggi-petinggi fakultas, pusat studi, MWA, dan Rektor (walaupun telah menyetujui). Kita harus membuat mereka paham betul tentang perlunya migrasi ke PLBOS. Minta bantuan orang-orang dekat petinggi yang peduli tentang PLBOS (misal pak jazi di MWA, pak BNP). Hal ini penting karena jika pimpinannya telah setuju maka untuk mengatasi bawahanyya akan lebih mudah. Selain itu kita juga bisa bekerja sama dengan BEM baik pusat maupun fakultas. Kita ungkapkan tentang berapa besar biaya yang harus dikeluarkan oleh UGM hanya karena membeli software asli yang sebenarnya bisa diarahkan untuk kepentingan lain.

Selain dengan isu penghematan kita juga bisa mengangkat isu nasionalisme seperti yang diangkat Pertamina, atau memberikan kesadaran bahwa pambajakan sama dengan pencurian yang merupakan kejahatan dunia dan akhirat.

Untuk mendukung pencerahan PLBOS ke masyarakat diperlukan juga pengumpulan, pembuatan, dan penerjemahan dokumen-dokumen yang mendukung, seperti pasal-pasal KUHP yang mengancam para pembajak, Ayat Alquran dan Hadis nabi tentang pencurian, Testimonial dari orang-orang yang melakukan migrasi ke PLBOS dan berhasil, berita berita tentang negara lain seperti Cina, Vietnam, atau negara lain yang telah duluan melakukan migrasi dan alasan-alasan nya, serta perhitungan ekonomi migrasi tentang keuntungan jangka panjang melakukan migrasi (semacam ROI).

Kedua, distro yang ditawarkan harus spesifik terhadap tiap-tiap institusi dengan melihat software apa saja yang dibutukkan dan spesifikasi hardware yang mereka miliki. Keuntungan nya adalah optimasi baik dalam hal kecepatan booting, instalasi yang mudah dan cepat, dan dalam hal pengoperasian. Juga kalau memungkinkan diberikan fitur-fitur desktop 3D. Ini untuk memberikan kesan yang baik pada pengguna.

Ketiga, support yang diberikan harus maksimal baik seperti dukungan repositori (tempat download software-software PLBOS) yang lengkap, cepat, dan mudah diakses. Layanan konsultasi yang selalu siap selama jam kerja. Dan pendampingan pada masa awal migrasi, pendampingan ini dilakukan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan umum pengguna seperti “Kalau di Windows seperti ini, kalau di Linux cara nya bagaimana?”. Pertanyaan-pertanyaan sebaiknya dicatat oleh pendamping dan jika telah terkumpul bisa dijadikan help center.

Keempat, Dalam proses migrasi jika memungkinkan dan dibutuhkan ditawarkan software-software yang kira kira bisa bermanfaat bagi kinerja institusi yang bersangkutan. Seperti ditawarkan pembuatan server jabber sehingga untuk komunikasi lokal bisa dioptimalkan, atau penawaran instalasi software project collaboration/project management, atau yang lainnya.

Kelima, untuk masalah hardware yang belum memiliki driver di Linux bisa ditawarkan layanan penukaran hardware (hardware lama di jual lalu diberikan hardware yang baru) dengan yang lebih friendly dengan Linux.

Keenam, untukmasalah aplikasi yang tidak ada padanannya di Linux bisa dengan menggunakan emulator seperti wine atau jika ternyata tidak berjalan dengan baik. Dibelikan saja wine versi komersial seperti CrossOver Office atau Cedega. Walaupun beli tetapi tidak semahal beli Windows dan yang penting bisa berjalan di Linux.

1 Komentar »

  1. agung said,

    terima kasih sekali mz fuad untuk sarannya..

    insya Allah kita akan berupaya semaksimal mungkin untuk mensosialisasikan open source di UGM.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: